Selasa

Malam

Aku selalu menunggu malam menegakkan bulan tepat ditengah cakrawala,
Mengumpulkan kembali seluruh kenangan yang tak jua pudar ceritanya,
Menjelajahi satu persatu suka duka disepanjang asa nya,
tertawa tatkala bertemu bahagia, dan rasa sesal ketika bertemu luka.
Mengarungi malam, dalam bayang tanpa bintang,
Menjadi sebuah kegiatan yang sudah biasa.
Bukan berarti tidak mensyukuri hari ini,
Bagaimana tidak,
Hal apa lagi yang terbaik selain kenyataan ?


Mimpi? , angan ? Bagiku itu semua hanya penentu perasaan seseorang.


Pelukan yang tertunda

Aku terlalu muak untuk melanjutkan dramamu sayang, aku selalu memekik kesakitan pada hatiku, menjerit dengan lantang dibawah alam sadar ku , bukan apa apa,aku hanya tak ingin kau tahu karena meski kau tahu, aku tak yakin dapatkan pedulimu.
Sayang, kau amat jauh menepi, kau tak lagi berlayar, kau tak lagi memutar roda kemudi mu.
Apa yang salah ?
Kupikir, diamku akan membantu ketenanganmu, namun nyatanya kau justru lebih dingin dariku.
Sayang, suhu disini amat dingin, tidak baik untukku bila kau tambah dengan dingin sikapmu, aku bisa mati merasakan dingin dari luar dan dalam tubuhku.
Aku butuh kehangatan mu.


Bermuara lah sayang, muarakan cintamu lagi kepadaku.
Kita akan mengulangi pelukan seperti malam malam yang telah berlalu.