Minggu

Sunyi

Suara motor menderu dari kejauhan, menembus malam, menggema lewat udara, samar menyentuh daun telinga seorang perempuan yang berbaring, berselimut dalam sebuah kamar kecil bersama pikiran yang tak menentu arah tujuannya.

Perempuan yang terjaga menyusur waktu lewat tengah malam, sendiri, bersama kesunyian, bersama hawa dingin, bersama sekumpulan bayangan tentang kekasihnya yang jauh.

"Ku kira bila aku melihat wajahmu hingga terlelap, atau sampai habis batrei ponsel, kita sudah seperti muda mudi diluar sana, romansanya pasaran, tapi bukankah itu lelucon yang menyentuh" pikirku.

"Ah.. Bukan jamannya" timpal batinku selanjutnya.

"Bukannya bukan jamannya, seperti tidak pernah rindu saja kamu" ucapku kemudian seolah kutunjukan pada diriku sendiri.

Setelah kutulis ini, aku akan menelpon mu. Kita lihat, apa romansa pasaran akan terjadi malam ini.

Hiduplah

Teruntuk masalah, sirnalah.
Teruntuk resah, pudarlah.
Teruntuk harapan, nyatalah.

Senin

Simpan Kata

Masa aku yang sendiri berandai, hingga tangan kita saling melambai.

Selang waktu, aku bukan berhenti, aku hanya mencari kata yang lebih berarti. Diantara baris draft, Ku kumpulkan ini, barangkali lusa dapat ku nikmati kembali. 

*****

Ku letakkan sandaran pada bahu senja, ku takar rasa biar tak lagi sama, kali ini harus beda, kecuali bila ingin kembali terluka.

--n-----

Bagaimana bisa kamu merasa seolah aku mengkhianatimu, sedang kita tak ada ikatan apapun.

--n-----

Sepeninggal ku nanti,
Puisi mu tak akan pernah mati.
Dalam kenang ia akan terkenang bahwa rangkaian itu pernah ada, meski kelak waktu membawa ku lupa pada tutur aksaranya.

--n-----

Masihkah kau akan merasa bahagia, 
bila kutanya kabarmu.
Akan kah tenang hatimu,
bila ku toreh senyum padamu.
Kembalikah kamu,
bila perlahan ku hilangkan ragu padamu.
Perlahan ku yakinkan tak lagi bimbang hatiku.
Dan ku harapkan tiada rasa hilang diantara jarak dan waktu.

--n-----

Aku menyayangkan rasa rindu yang datang setelah kau semakin berlalu.
Jikapun aku sedih, iya, aku tengah gundah hati.
Jikapun aku kecewa, iya, memang aku terluka.
Namun aku tidak menyesal,
Karena ku tahu ini masalah hati, bukan sesuatu yang pasti.
Bilamana Tuhan Mau, kurasa kita berdua Mampu.
Bilamana enggan, kelak rasa ini Tuhan kan hapuskan.

--n-----

Ketika ku mulai mau,
Kau mulai berlalu.
Bagaimana pun, aku tak dapat melarang mu.

--n-----

Pun aku sama berandainya,
Tentang asa yang menjelma menjadi kita.

--n-----

Kita lahir di kota ini,
Separuh hidup, kita habiskan di kota ini.
Bukan bermaksud egois, aku hanya berharap kita dapat menua pula di kota ini.

--n-----

Rinduku masih terus menggantung. Haruskah ku abaikan ? Atau kutunggu kamu pulang. Sampai sejauh waktu yang tak menentu.

--n-----

Aku selalu meminta kepada Tuhan, untuk menjatuhkan hatiku sedalam dalamnya pada seorang lelaki yang kelak menjadi jodohku. Dan sekarang aku tengah jatuh hati, entah akan lebih dalam lagi. Atau dia yang lebih dulu pergi.

--n-----

Aku ingin bersamamu dengan sedikit rindu.

--n-----

Merindu, memikirkan mu, ragu, ada kalanya pasang kemudian surut. Namun entah mengapa, hati seolah merasa memiliki, dan termiliki.

--n-----

Aku merasakan masa depan penuh kesunyian.
Masa kita yang saling menyimpan suka. Namun besar keyakinan tak mungkin bersama. 
Aku merasakan tempatmu kini sebatas dingin, sunyi, dan sepi.
Hilang kehangatan yang sempat kuciptakan diantara asa imajinasi.
Dan aku, yang kembali merasakan kekosongan, kesendirian yang tercipta berulang kali, bersama air jatuh di tepi mata kanan dan kiri, menerima kembali luka oleh sebab tak banyak harap untuk memiliki.

Kecuali bila kelak kita menemukan surga masing masing. Diantara banyaknya waktu berputar berulang, barangkali rasa patah ini dapat pudar, hingga orang lain datang menawarkan sandar.

Namun bila kita bersama, bahagiakah aku, damaikah kamu ? 
Yang mengarung bahtera, jauh dari bijana.

--n-----

Saat ini aku hanya ingin mengungkapkan bahwa aku rindu. Sebatas itu. Kelak bila bertemu, aku belum tahu.

--n-----

 Aku bahkan hafal riwayat pertemanan mu disosial media. Sesering itu aku mampir di laman mu. Meski yang jumpa, hanya ceritamu di hari yang lalu.

--n-----

Kita pernah berjalan beriringan, sebelum akhirnya berpisah di persimpangan. 6 Juni 2019

--n-----

Kutinggalkan dua tiket, bersama rasa berdebar dari genggaman mu di bioskop. 6 Juni 2019

--n-----

"Aku takut kehilanganmu, seperti saat aku kehilangan ibumu"- Aladin.
Aku membutuhkan tangan Tuhan. Aku membutuhkan tuntunan Tuhan.

--n-----

Kekaguman ku lebih tinggi, melebihi tutur kalimat yang kau tumpuk menjadi bahan bicara.

--n-----

Berikanlah keikhlasan untuk kami, menerima semua ketetapan ketetapan yang telah Engkau tetapkan.

*****

Minggu

Tutur


Aku hanya merasakan angin yang berhembus kering,
Tak membawa sejuk, tak membawa dingin.
Mereka hanya berlalu, tak bernyawa.
Sepi rasanya.
Berhembus memudarkan segala harapan harapan yang diharapkan.



[16 Juni 2019]


Bagiku, tidak ada satupun alasan ku untuk membenci mu.
Mengenal mu, adalah cara mengenali diriku sendiri.
Dari keputusan ini, aku belajar bahwa
kita hanya dua orang yang berbeda, dan gagal untuk menjadi manusia yang saling menyesuaikan.
Kita adalah pelajaran, yang dikirim Tuhan untuk saling mengajari satu sama lain, dengan ataupun tanpa bersama.
Dengan ataupun tanpa menjelaskan, kita hanya manusia, yang diciptakan Tuhan dengan segala keagungan pikiran, untuk bernalar dan berusaha menjadi manusia besar.


Sabtu

Aku, Januari 2019

Selamat petang,
Hari Jum'at malam.
Saat aku menulis ini, aku sedang berada di teras kantor kecil yang setiap sore hari sering kudatangi. Setiap hari kecuali hari Sabtu dan hari hari tertentu ketika libur.
Iya, ini adalah kantor tempat kerjaku sekarang. Sudah hampir lima bulan aku disini. Yah, bagiku ini adalah tempat terbaik (sejauh ini) untuk menyalurkan sedikit passion yang sudah ku tekuni selama ini.
Aku bekerja di salah satu media cetak di kota kecil. Kota kelahiran ku sebenarnya. Aku disini sebagai layouter, layouter muda daripada layout satunya, disini ada dua layout. Dan aku paling cantik di redaksi, iya lah aku wanita sendiri disini.
Media cetak ini sebenarnya adalah media cetak terbesar di Indonesia, hanya saja aku bertempat di cabang kota, bukan pusat. Meski begitu aku bangga, dengan diriku sendiri. Aku merasa disini adalah tempat persinggahan bekerja terbaik dari sebelum sebelumnya.
Kenapa ku sebut terbaik ? Karena, ketika aku mendaftar di tempat ini dulu, aku merasa tenang. Iya, berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Maklum lah, aku adalah bocah menjelang tua yang baru lulus, dengan doktrin bahwa bekerja tidak harus sesuai dengan jurusan yang ditekuni. Oke, aku paham, mengerti, tapi ketika aku mencoba mendaftar pekerjaan yang diluar jurusan rasanya ragu, dilema, tidak tenang !. Aku selalu terbayang akan tugas tugas apa yang nanti harus aku selesaikan, sedangkan aku sama sekali tidak menekuni bidang pekerjaan yang aku lamar ketika waktu belajar dulu, misal bank, asuransi, dll. Parahnya itu adalah beberapa contoh pekerjaan yang harus pandai berhitung (MATEMATIKA) sedang bagiku, matematika adalah momok tersendiri bagi pikiranku.
Oke sudah cukup. Intinya aku tidak merasa nyaman bila harus mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion ku.
Dan.. bersyukur aku sudah diterima ditempat ini, meski hanya kecil, tapi inilah aku, inilah tempatku. Diriku disini, beserta jiwa dan pikiran ku yang mengikuti.
Mungkin bagi kamu yang mendapat pekerjaan sepassion, kamu akan mengerti betul bagaimana perasaan yang aku rasakan saat ini.
Seperti menggeluti hobi yang dibayar, enaknya disini, pekerjaan tidak bertele-tele. Bahan berita selesai, ditata, dikirim, pulang. Beres.
Begitulah, malam aku bekerja, siang aku istirahat, nyamankan ?
Aku sangat bersyukur dapat bekerja disini, dengan hal yang aku kuasai, yang terpenting adalah dekat dengan keluarga. Bagiku itu adalah yang terbaik. Ku harap kalian juga menemukan sesuatu yang terbaik, ditempat yang baik.


Senin

CUNDIANA

"Bagaimana bisa, kamu menilai aku mengkhianatimu, sedang kita tidak ada ikatan apapun".


Beberapa kali aku mencari arti dari namamu, namun aku belum menemukannya. Mungkin suatu saat apabila ada waktu baik yang memepertemukan kita, aku akan menanyakannya, bila mampu, kutanyakan pula bagaimana baikknya menanggapi rasa diantara kita.


"Ku letakkan sandaran pada bahu senja, ku takar rasa biar tak lagi sama, kali ini harus beda, kecuali bila ingin kembali terluka".


Kamu hadir disaat aku terluka, dengan bahasa novelmu, kau samarkan lukaku. Sekalipun kita tak pernah bertemu, namun di Minggu Minggu selanjutnya aku mulai rindu.
Apakah dengan aku rindu, kamu menganggap kita mempunyai hubungan yang istimewa ? Sedang kamu tak pernah sekalipun mengatakan cinta. Atau memang begitu caramu hidup dengan cinta tanpa menyebutnya.


"Renjana yang menipu, terkadang hatiku rindu, terkadang aku ragu".


Aku perempuan yang egois, aku ingin mendapatkan kepastian darimu, namun malu aku memintanya. Aku takut rinduku tak lagi bertuan sama seperti sebelumnya. Aku takut, gelisah ku membunuh rasaku sendiri. 'Mas' aku ingin kamu tahu (namun aku malu) bahwa raguku butuh dirimu.


"Pergiku dimalam itu dengan seseorang, namun dipikiran ku tetap kamu".


Aku pulang larut waktu itu, dan kupikir malam itu aku akan 'melihat' wajahmu lagi, rupanya kudapat rasa sebal mu, dan kemudian ragu pun menghantuiku. Akankah cukup kamu meletakkan pengharapan mu padaku. Sampai kutulis ini, hatiku kacau.

Terimakasih untuk puisi yang kau tulis diantara kesibukan mu. Aku belum dapat membalas dengan puisi yang sama baiknya. Ini indah, aku menyukainya. Perlu atau tidak kau tahu, aku tersipu membacanya.

Ku tulis ini di saat payah.
Yang lagi-lagi terselamatkan lampu mati. 
Orang sini menyebutnya api.

Rasa sewarna senja,
bercampur biru dipangku lautan.
Kata berhambur dipikiran, tak tersampaikan.

Jika aku kamu,kutanya kabarku.
Biar rasa bahagia lelaki yg tak bisa lagi membeda lelah dengan gelisah.
Jika aku kamu, aku tersenyum.
Lalu tenang hatiku.

Jika aku kamu, kubuang ragu,
kutipu bimbang,
kubohongi rasa ingin hilang.
Sayang. Aku bukan kamu.

*cundiana*

Selasa

Malam

Aku selalu menunggu malam menegakkan bulan tepat ditengah cakrawala,
Mengumpulkan kembali seluruh kenangan yang tak jua pudar ceritanya,
Menjelajahi satu persatu suka duka disepanjang asa nya,
tertawa tatkala bertemu bahagia, dan rasa sesal ketika bertemu luka.
Mengarungi malam, dalam bayang tanpa bintang,
Menjadi sebuah kegiatan yang sudah biasa.
Bukan berarti tidak mensyukuri hari ini,
Bagaimana tidak,
Hal apa lagi yang terbaik selain kenyataan ?


Mimpi? , angan ? Bagiku itu semua hanya penentu perasaan seseorang.