sedalam mana saya mulai tenggelam, tak jua temukan ujungnya.
bukan lagi abu-abu, semakin kesini semakin menghitam, gelap.
lingkaran putih di atas saya mulai mengecil,
di sini semakin pengap, terasa sesak, terasa semakin berat.
saya tak melihat apapun, tak menemukan satupun,
seperti melayang pada ruang tanpa gravitasi,
terhuyung tak tentu kemana tubuh kan terjatuh.
saya takut akan keadaan ini,
menangispun sia sia, tak kan ada yang mengerti.
Orang lain, bahkan diri saya sendiri pun tak bisa memahami.
Saya terlalu jauh tenggelam ke dalam diri saya sendiri, hingga tak dapat lagi menemukan dimana saya kini berada.
Disini hanya seperti ruang berbentuk pipa, memanjang dan semakin jauh menjulang.
tak ada tangga yang bisa dipanjat, tak ada tali untuk bisa di gapai, hanya harapan yang mungkin bisa menjadi jawaban.
Namun apalah daya, harapan bukanlah takdir, ia hanya akan datang bila dipersetujui.
Saya membutuhkan penolongan dari Tuhan saat ini, utusan dari-Nya yang mungkin dapat meraih saya dari tempat yang menakutkan ini.
Atau setidaknya menjatuhkan sebuah cahaya untuk penerangan saya disini, disini sangat gelap.
Selasa
Di Balik Jendela Kaca
Hujan membuatku ingin selalu bercerita, meski engkau tetap murung dan mengacuhkan.
Tak apa, bila nanti kau sudah kembali dalam tawamu, aku akan dengan senang hati mengulanginya lagi, nanti kita akan duduk di sofa, melirik hujan dari jendela kaca, kupangku kepalamu yang tengah berbaring, ku kecup lembut keningmu, dan akan ku ceritakan kembali, cerita tentang hujan yang tersenyum.
Suara petir, akan memeriahkan cerita kita.
Derasnya hujan, menghangatkan pelukan kita.
Gelap awan ,tak merenggutkan ciuman kita.
Kita akan tertawa dalam gemuruh riuh angin hujan diluar sana.
Kita nikmati teh hangat bersama, hanya berdua. Kita berbicara tentang masa depan, berangan tentang masa tua, dan bermimpi akan istana kita di Surga. Barangkali dengan ini kita dapat lebih dalam menggali tentang makna rumitnya cinta.
"Aku bisa bersembunyi dari hujan, tetapi aku tidak akan pernah bisa bersembunyi dari mu,
kekasihku".
Senin
Secangkir Kopi Putih
Seseorang mengingatkanku tentang secangkir kopi, Sudah tidak pernah lagi kusentuh gagang hangat itu. Bagiku, kopi itu rasanya akan tetap pahit meski puluhan sendok gula larut dalam pusaran kebul asapnya. Setiap aku menyentuh, membuat, bahkan membayangkan kopi itu saja, aku selalu teringat akan seseorang di masa lampau, seseorang yang senantiasa ada, berjalan mengiringi hidupku di kala suka dan duka, seseorang yang selalu aku tangisi di setiap kali aku mengingatnya, seseorang yang selalu membuatkanku secangkir kopi putih di pagi dan malam hari, seseorang yang kini sudah tak dapat lagi aku temui,orang yang begitu berharga. Yang kini menjadikanku rapuh di setiap kali aku jatuh dalam bayangan semu, bahkan ketika ku tulis ini, tak sadar aku pun tiba-tiba menangis.
Malam ini aku mencoba kembali, kuseduh secangkir kopi putih, kebul asapnya memberikan aroma yang khas, aroma kenangan.
Pelan ku sruput bibir cangkir, pelan. Ku coba untuk menikmati kembali, kopi semakin dekat dengan bibirku dan jatuh mengenai lidahku, kurasakan aromanya semakin mendekat, semakin pekat, rasa manis terasa, rasa kopi mulai terbaca dalam otakku, namun tidak kutemui kenikmatan itu kali ini. Kenikmatan yang kurasakan di hari-hari kemarin, aku gagal.
Aku tak tahu apa yang ku lakukan seterusnya, aku tetap mencoba meminumnya, ku ingat rasanya, memang manis, meski itu bukan kopi yang sama, namun tetap saja aku tak dapat menikmatinya. Aku selalu terbayang cerita kemarin, membuat kopi ku terasa begitu hambar.
Untuk engkau yang mengingatkanku tentang secangkir kopi.
Aku berharap, suatu waktu nanti kita bertemu, merasakan secangkir kopi di pinggir jalan, dalam suasana yang penuh kebahagiaan dan kebaikan.
Siapa tahu, aku bisa menemukan kenikmatan kopi itu lagi,
bersamamu.
Malam ini aku mencoba kembali, kuseduh secangkir kopi putih, kebul asapnya memberikan aroma yang khas, aroma kenangan.
Pelan ku sruput bibir cangkir, pelan. Ku coba untuk menikmati kembali, kopi semakin dekat dengan bibirku dan jatuh mengenai lidahku, kurasakan aromanya semakin mendekat, semakin pekat, rasa manis terasa, rasa kopi mulai terbaca dalam otakku, namun tidak kutemui kenikmatan itu kali ini. Kenikmatan yang kurasakan di hari-hari kemarin, aku gagal.
Aku tak tahu apa yang ku lakukan seterusnya, aku tetap mencoba meminumnya, ku ingat rasanya, memang manis, meski itu bukan kopi yang sama, namun tetap saja aku tak dapat menikmatinya. Aku selalu terbayang cerita kemarin, membuat kopi ku terasa begitu hambar.
Untuk engkau yang mengingatkanku tentang secangkir kopi.
Aku berharap, suatu waktu nanti kita bertemu, merasakan secangkir kopi di pinggir jalan, dalam suasana yang penuh kebahagiaan dan kebaikan.
Siapa tahu, aku bisa menemukan kenikmatan kopi itu lagi,
bersamamu.
Ukiran kenangan di Kota Jepara
Jemari itu masih erat menggenggam sebelum terlepas oleh waktu yang terus berjalan, ku sandarkan kepala yang mulai berat ini pada bahunya yang tinggi dan tegap bagai bangunan yang kokoh menjulang ke cakrawala, sesekali kupandangi garis dagunya yang terbelah, ia menatap nanar jauh kedepan, matanya kian menyipit menerjang cahaya mega.
Ia melepaskan genggamannya, dan akupun memandanginya, mungkin ia sadar, dan memandangku kembali, aku tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya, perlahan namun pasti. Matanya semakin dalam menatap, dan aku semakin tenggelam olehnya. Tak lama kurasakan sensasi itu, ia akhiri dengan mengecup keningku dan kembali menggenggam jemariku, aku mematung menghadap ke lehernya. Namun ia tak menyimaknya dan kembali asyik menerjang cahaya yang menyilaukan itu.
Seolah tidak perlu ada banyak kata yang harus kami ungkapkan, cukup diam dan keheningan memanjakan suasana saat itu.
Kunikmati kembali genggamannya, dan mengikutinya menerjang cahaya di depan kami. Pandanganku mulai nanar kedepan, sudahkah ? apakah ini sudah ?, batinku berkecamuk. Waktu semakin membuat garis pantai menghapus lingkaran matahari yang semakin oranye.
Aku semakin gelisah tak karuan, pikiran dan hati tak lagi mau bersatu membuat pelangi sendiri di dalamnya. Dia menoleh kehadapanku, tersenyum dan berkata "Pulang ?" . Oh tidak, sungguh ini akan terjadi sebentar lagi. Kembali kujatuhkan kepalaku pada bahunya. ia memeluk tubuhku yang meringkuh. Kurasakan sensasi hangat yang merasuk dalam tubuhku, sebelum akhirnya aku berkata "Mari ". Dan ia berdiri,menjulurkan tangannya membantuku berdiri mengikutinya.
Kami berjalan mengiringi garis ombak, yang mengukir bekas kecoklatan di Pasir pantai, menghapus jejak kaki kami yang semakin menjauh dari pantai. Matahari sudah tenggelam, hanya sebersit awan oranye masih menggores langit yang mulai menghitam, sunset di Teluk Awur menutup pertemuan kita.
Ia melepaskan genggamannya, dan akupun memandanginya, mungkin ia sadar, dan memandangku kembali, aku tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya, perlahan namun pasti. Matanya semakin dalam menatap, dan aku semakin tenggelam olehnya. Tak lama kurasakan sensasi itu, ia akhiri dengan mengecup keningku dan kembali menggenggam jemariku, aku mematung menghadap ke lehernya. Namun ia tak menyimaknya dan kembali asyik menerjang cahaya yang menyilaukan itu.
Seolah tidak perlu ada banyak kata yang harus kami ungkapkan, cukup diam dan keheningan memanjakan suasana saat itu.
Kunikmati kembali genggamannya, dan mengikutinya menerjang cahaya di depan kami. Pandanganku mulai nanar kedepan, sudahkah ? apakah ini sudah ?, batinku berkecamuk. Waktu semakin membuat garis pantai menghapus lingkaran matahari yang semakin oranye.
Aku semakin gelisah tak karuan, pikiran dan hati tak lagi mau bersatu membuat pelangi sendiri di dalamnya. Dia menoleh kehadapanku, tersenyum dan berkata "Pulang ?" . Oh tidak, sungguh ini akan terjadi sebentar lagi. Kembali kujatuhkan kepalaku pada bahunya. ia memeluk tubuhku yang meringkuh. Kurasakan sensasi hangat yang merasuk dalam tubuhku, sebelum akhirnya aku berkata "Mari ". Dan ia berdiri,menjulurkan tangannya membantuku berdiri mengikutinya.
Kami berjalan mengiringi garis ombak, yang mengukir bekas kecoklatan di Pasir pantai, menghapus jejak kaki kami yang semakin menjauh dari pantai. Matahari sudah tenggelam, hanya sebersit awan oranye masih menggores langit yang mulai menghitam, sunset di Teluk Awur menutup pertemuan kita.
Mungkin tak akan ada lagi cerita yang sama untuk terjadi kembali. Kamu, matahari dan pantai, akan menjadi kenangan di Kota Jepara, selamata tinggal sayang, aku harus pulang.
Cinta di Sudut Jogja
Cahaya buram jatuh dalam bayangan jalan setapak yang basah, ketika kujumpai sosok mata yang berbinar. Tersenyum menyembunyikan sisa rasa sungkan dalam sudut bibirnya, ia berkata "Hai !".
Ketampanannya tersembunyi samar oleh gelap malam, namun kaca mata ini memperjelas pandanganku, setidaknya , mata yang teduh itu mampu ku pandang. Sebelum ia mendekat, dan nampaklah sudah semuanya, senyum yang merekah dengan deretan gigi yang rapi, mata yang sayu dengan tatapan yang mendayu, kurasa ia malaikat, batinku.
Kutemui ia di sudut kota Jogja, dengan rambut basah yang dibuat oleh gerimis kala itu, seolah memberikan isyarat untuk ku mendekat dan memayunginya.
Dibawah payung hitam kami melangkah bersama,menyusuri setapak demi setapak jalan Malioboro, suara bising jalanan menyamarkan degup jantung yang berdegup amat kencang. Lampu remang menyembunyikan senyumku yang sering merekah tatkala ia memandang.
Angin menjadi saksi perbincangan, sebelum kami harus berpisah dipersimpangan jalan.
Sampai jumpa kekasih, di sudut Jogja.
Ketampanannya tersembunyi samar oleh gelap malam, namun kaca mata ini memperjelas pandanganku, setidaknya , mata yang teduh itu mampu ku pandang. Sebelum ia mendekat, dan nampaklah sudah semuanya, senyum yang merekah dengan deretan gigi yang rapi, mata yang sayu dengan tatapan yang mendayu, kurasa ia malaikat, batinku.
Kutemui ia di sudut kota Jogja, dengan rambut basah yang dibuat oleh gerimis kala itu, seolah memberikan isyarat untuk ku mendekat dan memayunginya.
Dibawah payung hitam kami melangkah bersama,menyusuri setapak demi setapak jalan Malioboro, suara bising jalanan menyamarkan degup jantung yang berdegup amat kencang. Lampu remang menyembunyikan senyumku yang sering merekah tatkala ia memandang.
Angin menjadi saksi perbincangan, sebelum kami harus berpisah dipersimpangan jalan.
Sampai jumpa kekasih, di sudut Jogja.
Minggu
Wanita Pemeluk Harapan
Malam mulai larut ,sayang.
namun pergimu tak kunjung usai
Saya menunggu kamu hampiri, sayang
Saya telah menyiapkan banyak kasih untuk mu malam ini
Kau terlalu lama menghilang, sayang
Aku khawatir rasa ini akan sirna seperti asa.
Sayang, jangan kau biarkan hati saya terlalu jenuh menunggu
Sudah cukup kau berkelana.
Berhentilah, disini saya membawa cinta yang berat untuk kau peluk.
namun pergimu tak kunjung usai
Saya menunggu kamu hampiri, sayang
Saya telah menyiapkan banyak kasih untuk mu malam ini
Kau terlalu lama menghilang, sayang
Aku khawatir rasa ini akan sirna seperti asa.
Sayang, jangan kau biarkan hati saya terlalu jenuh menunggu
Sudah cukup kau berkelana.
Berhentilah, disini saya membawa cinta yang berat untuk kau peluk.
Sabtu
Hantaran Gerimis Pertama
Hujan datang untuk kesekian kali
panas telah terlampaui jutaan kali
kenangan tak pernah hanyut
Bayangan tak kian luput
Tak pernah kurasakan kesepian selarut ini
Keramaian tak menjelaskan keadaan
Kebisingan tak memperbaiki perasaan
Saya kangen kepada Ibuk
Kini sudah tak kulihat lagi tubuh yang sangkuk,
cerita dan kenangan masih tertinggal dalam sudut ruang kerinduan.
Dengan bayangannya yang masih menghantui pikiran.
Kulihat gerimis mulai datang membawa hantaran
beribu pesan rindu untuk kembali dikenang.
Wanita Tanpa Kacamata
sepasang gundukan kulit yang menghitam permukaannya menggantung dibawah kedua mata, otot mata yang mulai bringas keluar menampakan akar belukar kemerahannya di permukaan, tatapan yang mulai sayu tidak menghalangi untuk tetap melirik, melihat dan menatap. Saya hidup tanpa kaca yang menghalangi, tanpa kerangka yang tergantung di telinga, tanpa capit yang menghimpit disetiap sisi tulang hidung, saya dapat melihat tanpa ada batas di setiap sisinya, namun terkadang, itu semua tidak menjadikan saya tahu akan banyak hal, tahu akan berbagai keadaan, semua luput dari pandangan. sebanyak saya melihat dan memperhatikan, semuanya sia-sia tanpa saya menggunakan hati nurani untuk mengerti keadaan yang sesungguhnya terjadi, saya gagal menjadi seseorang yang diberikan kesempurnaan penglihatan, semua seolah sia-sia, sekian banyak hal yang telah terekam oleh kedua mata ini, hanya menjadi satu tatapan nanar yang begitu hambar. tak berarti tanpa rasa peduli, hati terasa begitu ciut, dibandingkan oleh mereka yang buta namun pesona hati dan fikiran yang dipenuhi oleh aura kesempurnaan, keindahan, keikhlasan dan syukur yang teramat jauh dibanding dengan kedua mata yang nanar tak berbinar. Saya terlalu dangkal untuk melihat, tanpa merasakan jauh didalamnya ada sebuah rasa yang perlu dijaga dan dipelihara. Terlalu berfikir akan ketakutan dan kegelisahan dengan semua hal yang pernah terlihat. itulah kesalahan saya. Berani melihat tanpa kacamata, tanpa mengerti arti dibaliknya.
Dunia masih begitu indah untuk dinikmati ,meski terlalu kejam untuk dirasakan.
Dunia masih begitu indah untuk dinikmati ,meski terlalu kejam untuk dirasakan.
Petualangan Kadaluarsa
Cinta, kata yang amat usang bahkan lebih dirasakan kadaluarsa untuk didengar bahkan dibayangkan, bahkan untuk di bahas ataupun di baca mungkin sangat pasaran, namun saya hidup di dalamnya, bersemayam bahkan seolah terlalu gampang terbuai atas segala tetek bengek hal itu. saya terlalu asyik bila jatuh didalamnya.
aspek cinta yang begitu rumit, sulit dan jengah untuk dimengerti, namun jika sudah melekat dengan rasa itu, rasa yang mungkin akan muncul bila saya Melihat sesuatu ataupun seseorang dengan pesonanya memancarkan aura untuk ditangkap oleh Mata dan motorik otak saya.
Saya akan merasakan cinta, begitulah hidup saya di masa lalu , sekarang, dan mungkin masa depan saya nanti
Begitu tergambar jelas bukan ?, seusang dan sekadaluarsanya Cinta itu sendiri, namun saya asyik untuk membahasnya, begitu menantang dan seolah membawa jiwa saya untuk berpetualang.
Petualangan yang kadaluarsa ...
aspek cinta yang begitu rumit, sulit dan jengah untuk dimengerti, namun jika sudah melekat dengan rasa itu, rasa yang mungkin akan muncul bila saya Melihat sesuatu ataupun seseorang dengan pesonanya memancarkan aura untuk ditangkap oleh Mata dan motorik otak saya.
Saya akan merasakan cinta, begitulah hidup saya di masa lalu , sekarang, dan mungkin masa depan saya nanti
Begitu tergambar jelas bukan ?, seusang dan sekadaluarsanya Cinta itu sendiri, namun saya asyik untuk membahasnya, begitu menantang dan seolah membawa jiwa saya untuk berpetualang.
Petualangan yang kadaluarsa ...
Langganan:
Postingan (Atom)


