Teruntuk masalah, sirnalah.
Teruntuk resah, pudarlah.
Teruntuk harapan, nyatalah.
Minggu
Senin
Simpan Kata
Masa aku yang sendiri berandai, hingga tangan kita saling melambai.
*****
Ku letakkan sandaran pada bahu senja, ku takar rasa biar tak lagi sama, kali ini harus beda, kecuali bila ingin kembali terluka.
--n-----
Bagaimana bisa kamu merasa seolah aku mengkhianatimu, sedang kita tak ada ikatan apapun.
--n-----
Sepeninggal ku nanti,
Puisi mu tak akan pernah mati.
Dalam kenang ia akan terkenang bahwa rangkaian itu pernah ada, meski kelak waktu membawa ku lupa pada tutur aksaranya.
--n-----
Masihkah kau akan merasa bahagia,
bila kutanya kabarmu.
Akan kah tenang hatimu,
bila ku toreh senyum padamu.
Kembalikah kamu,
bila perlahan ku hilangkan ragu padamu.
Perlahan ku yakinkan tak lagi bimbang hatiku.
Dan ku harapkan tiada rasa hilang diantara jarak dan waktu.
--n-----
Aku menyayangkan rasa rindu yang datang setelah kau semakin berlalu.
Jikapun aku sedih, iya, aku tengah gundah hati.
Jikapun aku kecewa, iya, memang aku terluka.
Namun aku tidak menyesal,
Karena ku tahu ini masalah hati, bukan sesuatu yang pasti.
Bilamana Tuhan Mau, kurasa kita berdua Mampu.
Bilamana enggan, kelak rasa ini Tuhan kan hapuskan.
--n-----
Ketika ku mulai mau,
Kau mulai berlalu.
Bagaimana pun, aku tak dapat melarang mu.
--n-----
Pun aku sama berandainya,
Tentang asa yang menjelma menjadi kita.
--n-----
Kita lahir di kota ini,
Separuh hidup, kita habiskan di kota ini.
Bukan bermaksud egois, aku hanya berharap kita dapat menua pula di kota ini.
--n-----
Rinduku masih terus menggantung. Haruskah ku abaikan ? Atau kutunggu kamu pulang. Sampai sejauh waktu yang tak menentu.
--n-----
Aku selalu meminta kepada Tuhan, untuk menjatuhkan hatiku sedalam dalamnya pada seorang lelaki yang kelak menjadi jodohku. Dan sekarang aku tengah jatuh hati, entah akan lebih dalam lagi. Atau dia yang lebih dulu pergi.
--n-----
Aku ingin bersamamu dengan sedikit rindu.
--n-----
Merindu, memikirkan mu, ragu, ada kalanya pasang kemudian surut. Namun entah mengapa, hati seolah merasa memiliki, dan termiliki.
--n-----
Aku merasakan masa depan penuh kesunyian.
Masa kita yang saling menyimpan suka. Namun besar keyakinan tak mungkin bersama.
Aku merasakan tempatmu kini sebatas dingin, sunyi, dan sepi.
Hilang kehangatan yang sempat kuciptakan diantara asa imajinasi.
Dan aku, yang kembali merasakan kekosongan, kesendirian yang tercipta berulang kali, bersama air jatuh di tepi mata kanan dan kiri, menerima kembali luka oleh sebab tak banyak harap untuk memiliki.
Kecuali bila kelak kita menemukan surga masing masing. Diantara banyaknya waktu berputar berulang, barangkali rasa patah ini dapat pudar, hingga orang lain datang menawarkan sandar.
Namun bila kita bersama, bahagiakah aku, damaikah kamu ?
Yang mengarung bahtera, jauh dari bijana.
--n-----
Saat ini aku hanya ingin mengungkapkan bahwa aku rindu. Sebatas itu. Kelak bila bertemu, aku belum tahu.
--n-----
Aku bahkan hafal riwayat pertemanan mu disosial media. Sesering itu aku mampir di laman mu. Meski yang jumpa, hanya ceritamu di hari yang lalu.
--n-----
Kita pernah berjalan beriringan, sebelum akhirnya berpisah di persimpangan. 6 Juni 2019
--n-----
Kutinggalkan dua tiket, bersama rasa berdebar dari genggaman mu di bioskop. 6 Juni 2019
--n-----
"Aku takut kehilanganmu, seperti saat aku kehilangan ibumu"- Aladin.
Aku membutuhkan tangan Tuhan. Aku membutuhkan tuntunan Tuhan.
--n-----
Kekaguman ku lebih tinggi, melebihi tutur kalimat yang kau tumpuk menjadi bahan bicara.
--n-----
Berikanlah keikhlasan untuk kami, menerima semua ketetapan ketetapan yang telah Engkau tetapkan.
*****
Minggu
Tutur
Aku hanya merasakan angin yang berhembus kering,
Tak membawa sejuk, tak membawa dingin.
Mereka hanya berlalu, tak bernyawa.
Sepi rasanya.
Berhembus memudarkan segala harapan harapan yang diharapkan.
[16 Juni 2019]
Bagiku, tidak ada satupun alasan ku untuk membenci mu.
Mengenal mu, adalah cara mengenali diriku sendiri.
Dari keputusan ini, aku belajar bahwa
kita hanya dua orang yang berbeda, dan gagal untuk menjadi manusia yang saling menyesuaikan.
Kita adalah pelajaran, yang dikirim Tuhan untuk saling mengajari satu sama lain, dengan ataupun tanpa bersama.
Dengan ataupun tanpa menjelaskan, kita hanya manusia, yang diciptakan Tuhan dengan segala keagungan pikiran, untuk bernalar dan berusaha menjadi manusia besar.
Langganan:
Postingan (Atom)

