Senin

CUNDIANA

"Bagaimana bisa, kamu menilai aku mengkhianatimu, sedang kita tidak ada ikatan apapun".


Beberapa kali aku mencari arti dari namamu, namun aku belum menemukannya. Mungkin suatu saat apabila ada waktu baik yang memepertemukan kita, aku akan menanyakannya, bila mampu, kutanyakan pula bagaimana baikknya menanggapi rasa diantara kita.


"Ku letakkan sandaran pada bahu senja, ku takar rasa biar tak lagi sama, kali ini harus beda, kecuali bila ingin kembali terluka".


Kamu hadir disaat aku terluka, dengan bahasa novelmu, kau samarkan lukaku. Sekalipun kita tak pernah bertemu, namun di Minggu Minggu selanjutnya aku mulai rindu.
Apakah dengan aku rindu, kamu menganggap kita mempunyai hubungan yang istimewa ? Sedang kamu tak pernah sekalipun mengatakan cinta. Atau memang begitu caramu hidup dengan cinta tanpa menyebutnya.


"Renjana yang menipu, terkadang hatiku rindu, terkadang aku ragu".


Aku perempuan yang egois, aku ingin mendapatkan kepastian darimu, namun malu aku memintanya. Aku takut rinduku tak lagi bertuan sama seperti sebelumnya. Aku takut, gelisah ku membunuh rasaku sendiri. 'Mas' aku ingin kamu tahu (namun aku malu) bahwa raguku butuh dirimu.


"Pergiku dimalam itu dengan seseorang, namun dipikiran ku tetap kamu".


Aku pulang larut waktu itu, dan kupikir malam itu aku akan 'melihat' wajahmu lagi, rupanya kudapat rasa sebal mu, dan kemudian ragu pun menghantuiku. Akankah cukup kamu meletakkan pengharapan mu padaku. Sampai kutulis ini, hatiku kacau.

Terimakasih untuk puisi yang kau tulis diantara kesibukan mu. Aku belum dapat membalas dengan puisi yang sama baiknya. Ini indah, aku menyukainya. Perlu atau tidak kau tahu, aku tersipu membacanya.

Ku tulis ini di saat payah.
Yang lagi-lagi terselamatkan lampu mati. 
Orang sini menyebutnya api.

Rasa sewarna senja,
bercampur biru dipangku lautan.
Kata berhambur dipikiran, tak tersampaikan.

Jika aku kamu,kutanya kabarku.
Biar rasa bahagia lelaki yg tak bisa lagi membeda lelah dengan gelisah.
Jika aku kamu, aku tersenyum.
Lalu tenang hatiku.

Jika aku kamu, kubuang ragu,
kutipu bimbang,
kubohongi rasa ingin hilang.
Sayang. Aku bukan kamu.

*cundiana*

Tidak ada komentar: