Sabtu

Wanita Tanpa Kacamata

sepasang gundukan kulit yang menghitam permukaannya menggantung dibawah kedua mata, otot mata yang mulai bringas keluar menampakan akar belukar kemerahannya di permukaan, tatapan yang mulai sayu tidak menghalangi untuk tetap melirik, melihat dan menatap. Saya hidup tanpa kaca yang menghalangi, tanpa kerangka yang tergantung di telinga, tanpa capit yang menghimpit disetiap sisi tulang hidung, saya dapat melihat tanpa ada batas di setiap sisinya, namun terkadang, itu semua tidak menjadikan saya tahu akan banyak hal, tahu akan berbagai keadaan, semua luput dari pandangan. sebanyak saya melihat dan memperhatikan, semuanya sia-sia tanpa saya menggunakan hati nurani untuk mengerti keadaan yang sesungguhnya terjadi, saya gagal menjadi seseorang yang diberikan kesempurnaan penglihatan, semua seolah sia-sia, sekian banyak hal yang telah terekam oleh kedua mata ini, hanya menjadi satu tatapan nanar yang begitu hambar. tak berarti tanpa rasa peduli, hati terasa begitu ciut, dibandingkan oleh mereka yang buta namun pesona hati dan fikiran yang dipenuhi oleh aura kesempurnaan, keindahan, keikhlasan dan syukur yang teramat jauh dibanding dengan kedua mata yang nanar tak berbinar. Saya terlalu dangkal untuk melihat, tanpa merasakan jauh didalamnya ada sebuah rasa yang perlu dijaga dan dipelihara. Terlalu berfikir akan ketakutan dan kegelisahan dengan semua hal yang pernah terlihat. itulah kesalahan saya. Berani melihat tanpa kacamata, tanpa mengerti arti dibaliknya.
Dunia masih begitu indah untuk dinikmati ,meski terlalu kejam untuk dirasakan.

Tidak ada komentar: