Seseorang mengingatkanku tentang secangkir kopi, Sudah tidak pernah lagi kusentuh gagang hangat itu. Bagiku, kopi itu rasanya akan tetap pahit meski puluhan sendok gula larut dalam pusaran kebul asapnya. Setiap aku menyentuh, membuat, bahkan membayangkan kopi itu saja, aku selalu teringat akan seseorang di masa lampau, seseorang yang senantiasa ada, berjalan mengiringi hidupku di kala suka dan duka, seseorang yang selalu aku tangisi di setiap kali aku mengingatnya, seseorang yang selalu membuatkanku secangkir kopi putih di pagi dan malam hari, seseorang yang kini sudah tak dapat lagi aku temui,orang yang begitu berharga. Yang kini menjadikanku rapuh di setiap kali aku jatuh dalam bayangan semu, bahkan ketika ku tulis ini, tak sadar aku pun tiba-tiba menangis.
Malam ini aku mencoba kembali, kuseduh secangkir kopi putih, kebul asapnya memberikan aroma yang khas, aroma kenangan.
Pelan ku sruput bibir cangkir, pelan. Ku coba untuk menikmati kembali, kopi semakin dekat dengan bibirku dan jatuh mengenai lidahku, kurasakan aromanya semakin mendekat, semakin pekat, rasa manis terasa, rasa kopi mulai terbaca dalam otakku, namun tidak kutemui kenikmatan itu kali ini. Kenikmatan yang kurasakan di hari-hari kemarin, aku gagal.
Aku tak tahu apa yang ku lakukan seterusnya, aku tetap mencoba meminumnya, ku ingat rasanya, memang manis, meski itu bukan kopi yang sama, namun tetap saja aku tak dapat menikmatinya. Aku selalu terbayang cerita kemarin, membuat kopi ku terasa begitu hambar.
Untuk engkau yang mengingatkanku tentang secangkir kopi.
Aku berharap, suatu waktu nanti kita bertemu, merasakan secangkir kopi di pinggir jalan, dalam suasana yang penuh kebahagiaan dan kebaikan.
Siapa tahu, aku bisa menemukan kenikmatan kopi itu lagi,
bersamamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar